Selasa, 17 Juni 2014

Sapi Sampah

 Reportase 1308MIV_38_REPORTASE (Dimuat di Tabloid KONTAN Minggu ke IV Agustus 2013)

Perut sapi pun Berisi Bola-Bola Plastik

Meski kontroversial, penggembalaan sapi di TPA Jatibarang, Semarang, tetap marak

Fransiska Firlana


Apa yang ada di dalam pikiran Anda ketika membayangkan suasana tempat pembuangan akhir (TPA) sampah? Jawabannya pasti tunggal: tidak nyaman! Hal ini bisa ditemui di TPA Jatibarang, Kecamatan Mijen, Semarang, Jawa Tengah. Bau busuk langsung menyengat hidung dalam radius dua kilometer dari TPA yang terletak enam kilometer sebelah barat daya pusat kota Semarang tersebut. Jalan menuju lokasi itu berlubang-lubang lantaran aspalnya sudah terkelupas.

Saban lima menit, tiga truk sampah berukuran sedang memasuki TPA itu untuk memuntahkan muatannya. Hasilnya, terbentuk gunungan sampah setinggi sekitar 30 meter. Namun, ada keriuhan setiap kali truk sampah memuntahkan isi muatannya. Saat KONTAN mendatangi tempat itu pada akhir Juli lalu, deru mesin eskavator yang berusaha meratakan sampah itu berpadu dengan dengungan ribuan lalat hijau dan suara lenguhan ribuan sapi. Maklum, TPA Jatibarang adalah salah satu TPA di Indonesia yang lahannya menjadi tempat penggembalaan hewan ternak tersebut.

Saban hari, TPA Jatibarang menampung sekitar 850 ton sampah dari 16 kecamatan di seantero Kota Semarang. �Yang masuk ke pabrik pengolahan sampah organik sebanyak 350 ton, sedangkan yang masuk ke lokasi buang 500 ton,� ujar Suhadi, Kepala TPA Jatibarang. Setiap hari sebanyak 400 truk masuk ke TPA seluas 44 hektare itu. Sesaat setelah truk itu mengeluarkan sampah, ribuan sapi dan puluhan pemulung langsung datang mengerubunginya.

Dua jenis makhluk hidup itu terlihat sangat akur, berbagi tempat untuk mengais sampah. Sembari berceloteh, pemulung sibuk memilih barang-barang yang mungkin masih bisa dimanfaatkan atau dijual kembali. Sedangkan kawanan sapi dengan santainya mengais sampah yang bisa dimakan. sapi-sapi di TPA itu sudah hafal betul kondisi di sana. Ketika truk sampah datang, kawanan sapi langsung berbondong-bondong merapat ke truk sampah. �Sudah biasa begini, saling berbagi. Saya ambil plastik buat dijual, sapinya cari apa yang bisa dimakan,� ujar salah seorang pemulung yang berasal dari daerah Kebumen.

Sapi kompensasi bantuan pemerintah Tentunya, ribuan kawanan sapi itu bukanlah milik para pemulung, melainkan milik warga di sekitar TPA Jatibarang, khususnya warga Desa Bambankerep, Ngaliyan. Ada sekitar 2.000 ekor di sana, milik sekitar 150 warga di 7 RT ?Desa Bambankerep. sapi-sapi lokal itu dibiarkan mencari makan sendiri di area TPA Jatibarang oleh pemiliknya. Menurut Suhadi, biasanya si pemilik sapi akan datang pada sore hari untuk mengandangkan hewan ternak tersebut. Namun, ada juga pemilik yang membiarkan sapinya. Memang, ada kandang sapi yang berderet di pinggir lokasi TPA.

Sayangnya, kondisi kandang tersebut terkesan alakadar. Lantainya beralaskan tanah sedangkan dindingnya terbuat dari kayu yang tak beraturan. Plastik-plastik terlihat berserakan di sekitar kandang sapi ?tersebut. Menurut Chamdin, salah seorang peternak sapi yang menggembalakan sapi di TPA Jatibarang, hampir seluruh warga Bambankerep memiliki sapi. Ada satu keluarga yang memiliki lima ekor sapi, 10 ekor, 20 ekor atau 30 ekor sapi.

Bahkan ada kepala keluarga yang memelihara 50 ekor sapi,� ?kata Chamdin. Tak jelas jumlah persis sapi yang dimiliki warga Desa Bambankerep tersebut. Chamdin bercerita, belum lama ini, Badan Pusat Statistik (BPS) sempat datang dan mendata jumlah sapi milik warga yang digembalakan di TPA Jatibarang. Jumlahnya sebanyak 1.400 ekor. Tapi, lanjut Chamdin, BPS menyangsikan jumlah tersebut. Sebab, jumlahnya menurun drastis dari data yang dimiliki BPS sebelumnya, yaitu sebanyak 2.700 ekor sapi. �Banyak warga di sini yang tidak jujur mengakui jumlah sapi yang dimiliki,� kata dia.

Chamdin sendiri mengaku tidak mengetahui alasan warga ogah memberikan data asli kepemilikan sapinya. Sejatinya, pendataan tersebut penting karena sapi-sapi yang ada di TPA Jatibarang itu merupakan bantuan pemerintah. Menurut Chamdin, pemerintah memberikan kompensasi atas pembukaan TPA Jatibarang kepada warga Desa Bambankerep pada tahun 1998. Kompensasi itu berupa pemberian hewan ternak sapi. Tahun 1998, pemerintah melalui dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) memberikan bantuan 35 ekor sapi yang dititipkan untuk dipelihara (gado) kepada 17 warga Bambankerep.

Setahun kemudian, melalui dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) lewat Dinas Pertanian Kotamadya Semarang, pemerintah memberikan 80 ekor sapi kepada 40 warga. Lalu, pada tahun 2000, Dinas Pertanian Kota Semarang merogoh dana dari APBD untuk membiayai pengadaan 80 ekor sapi kepada 40 warga penggado. Seiring berjalannya waktu, jumlah sapi yang dikembangbiakkan di TPA Jatibarang semakin banyak. Rusdiana, Kepala Dinas Pertanian Kotamadya Semarang, menaksir jumlahnya mencapai 3.000 ekor sapi. Alhasil, kehidupan warga di sekitar TPA Jatibarang yang semula miskin perlahan-lahan menjadi sejahtera. �Banyak yang sudah naik haji, lo,� imbuhnya. Chamdin mengakui, sebagian hasil ternak di TPA Jatibarang dikonsumsi sendiri oleh para warga.

Namun, banyak juga yang menjual hasil ternak sapi tersebut di sekitar Semarang. Bahkan, dia mengklaim pernah mengirim sapi itu kepada pembeli di Jakarta. Maklum, permintaan sapi dari Jakarta cukup banyak. �Baru sekitar tiga minggu lalu saya kirim ke Jakarta,� kata ?pria yang memang mengandalkan perekonomian keluarganya dari beternak sapi. Sebenarnya, Chamdin pernah mendapatkan tawaran untuk mengirimkan sebanyak delapan ekor sapi yang dimuat dalam satu truk setiap hari ke Jakarta. Tapi, dia tidak bisa memenuhi permintaan itu karena ketersediaan sapinya terbatas.

Yang jelas, jika Chamdin memiliki sapi yang siap jual maka dia akan menelepon calon pembelinya di Jakarta. Memang, kehadiran peternakan sapi di lokasi TPA Jatibarang ini mampu mengangkat tingkat ekonomi warga Bambankerep. Mereka sangat mengandalkan hewan ternak itu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Mulai dari biaya hidup sehari-hari, menyekolahkan anak-anak hingga membeli peralatan elektronik dan properti.

Bak simbiosis mutualisme, gunungan sampah di TPA itu juga berperan penting bagi warga Bambankerep. �Kalau sehari saja tidak ada pembuangan sampah, warga malah susah karena sapi-sapi tidak bisa makan,� imbuh Chamdin. Daging sapi berlogam dan berisi plastik Meski pengembalaan sapi di kawasan TPA Jatibarang mampu mengangkat perekonomian warga di sekitarnya, ada bahaya yang sudah mengintai. TPA Jatibarang menampung semua jenis sampah. Bukan hanya sampah pasar berupa sayuran, tetapi juga aneka sampah seperti plastik dan beragam jenis logam. Ada pula sampah industri, termasuk dari pabrik lem dan pelumas mesin.

Nah, tak tertutup kemungkinan berbagai sampah anorganik itu dimakan dan masuk ke perut sapi. M. Arifin, seorang dosen di Universitas Diponegoro yang pernah melakukan penelitian terkait identifikasi kandungan logam berat pada tubuh sapi yang digembalakan di TPA Jatibarang, mengatakan, dalam tubuh kawanan sapi tersebut terkandung logam berat jenis Pb, Hg, dan Cd yang membahayakan kesehatan konsumen. Memang, pada jangka pendek, tidak terlihat jelas efek dari masuknya logam berat itu ke dalam tubuh. Namun, dalam jangka panjang, efeknya sangat membahayakan bagi manusia, termasuk gangguan saraf. �Meskipun efeknya jangka panjang, untuk masalah kesehatan seharusnya tanpa kompromi,� ujar Edy Rianto, dosen Universitas Diponegoro yang menjadi anggota tim penelitian yang berlangsung pada 2003 tersebut.

Menurut Edy, kawanan sapi di TPA bisa terganggu sarafnya, seperti tremor. Namun, sejauh ini memang belum ada sapi yang mengalami hal itu. Efeknya belum terlihat karena sapi berusia 2,5 tahun hingga 3 tahun sudah dipotong. Daud Samsudewa, Dosen Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro, juga pernah melakukan penelitian terhadap hewan ternak bebek di sebuah danau di Jawa Tengah. Bebek itu sehari-hari memakan keong yang ada di danau. Ternyata, dalam kurun waktu tertentu, bebek-bebek itu makin jarang bertelur. Hasil penelitian Daud mengungkapkan, penyebabnya ?bersumber dari keong di danau yang mengandung logam berat. Artinya, kandungan logam berat dalam tubuh manusia pada jangka panjang berpotensi mengganggu fungsi reproduksi manusia.

Hasil penelitian itu tampaknya sejalan dengan kondisi penggembalaan sapi di TPA Jatibarang. Menurut Chamdin, kondisi sapi di TPA Jatibarang tidak seperti dulu. Kalau dulu hampir setiap hari ada sapi yang beranak. �Tapi sekarang tidak,� imbuhnya. Inilah mungkin yang menjadi salah satu penyebab susutnya populasi sapi di kawasan TPA Jatibarang. Tim penelitian Universitas Diponegoro tidak hanya menemukan kandungan logam berat dalam tubuh sapi di TPA Jatibarang. Berdasarkan penelitian terhadap empat sapi yang sejak lahir hingga umur 2,5 tahun hidup di TPA itu, ternyata rumennya berisi aneka plastik setelah disembelih. Beratnya mencapai 20 kilogram hingga 25 kilogram. �Bau sampah dan busuk sekali,� kata Edy. Secara postur, sapi-sapi yang digembalakan di TPA memang gemuk-gemuk.

Maklum, makanan hewan itu penuh nutrisi. Tapi, sampah anorganik seperti kertas koran, kantong plastik, kemasan makanan ringan hingga tali rafia juga ikut masuk ke perut sapi. Nah, bila dibiarkan lama hidup, sapi-sapi itu bisa mati bukan karena sakit tapi lantaran saluran pencernaannya tersumbat oleh sampah. Kepala Seksi Kesehatan Hewan Dinas Pertanian Kotamadya Semarang, Adhityani, mengakui perut sapi-sapi dari TPA Jatibarang berisi plastik yang sudah membentuk bola-bola. �Karena tidak bisa dicerna, plastik itu membentuk bola-bola di rumen,� katanya. Suhadi juga pernah melihat sendiri pemotongan sapi hasil pengembalaan di TPA Jatibarang. Perut sapi-sapi itu berisi kantong plastik dan kardus. �Jangan ditanya baunya seperti apa, yang jelas baunya seperti sampah,� tandasnya.

Sejak itulah Suhadi enggan memakan daging sapi sajian warga di sekitar TPA tersebut. Chamdin tidak menampik berbagai temuan �ajaib� itu. �Pasti ada kalau plastik, wong mereka (sapi) makannya sembarangan,� katanya. RPH menampik Untuk menyembelih dan memotong sapi, warga Bambankerep mengantarkan hewan ternaknya ke Rumah Pemotongan Hewan (RPH). Setidaknya ada tiga RPH yang digunakan yaitu RPH Boja di Kendal, RPH Ungaran, dan RPH Penggaron. KONTAN mencoba menelesuri jejak sapi hasil ternak warga Bambankerep ke RPH Penggaron pada Selasa subuh, 23 Juli lalu.

Sayangnya, pada hari itu tidak ada pemotongan sapi hasil pengembalaan TPA Jatibarang di RPH tersebut. Sujono, salah seorang tukang potong sapi di RPH Penggaron, mengaku belum pernah memotong sapi yang perutnya berisi sampah plastik selama 15 tahun bekerja di RPH itu. Pengakuan serupa meluncur dari mulut Muhammad Misro, tukang potong sapi di tempat yang sama. Rahmanto, staf pemotongan ternak RPH Penggaron, menyatakan sapi-sapi yang masuk ke rumah pemotongan itu dipacu kualitas dagingnya dengan pakan yang baik. Maklum, penjual sapi juga sangat hati-hati dalam menjaga kualitas dagingnya.

Sapi agak basah saja, jagal bisa marah karena pasti juga ditolak oleh pembelinya,� kata Rahmanto. Pria yang sudah bekerja di RPH sejak tahun 1980 dan pengurus sanitasi RPH, ini mengaku belum pernah menemukan sapi dari penggembalaan TPA Jatibarang yang masuk ke RPH Penggaron. Sekadar informasi, ada 35 ekor sapi yang dipotong di RPH Penggaron tiap hari. Muhadi, seorang tukang jagal yang ditemui KONTAN di RPH tersebut menyatakan belum pernah mengambil atau membeli sapi dari hasil pengembalaan TPA Jatibarang. Pria yang berdagang sapi selama 40 tahun ini mengaku selalu mengambil sapi dari daerah Ambarawa.

Namun, penuturan berbeda diungkapkan salah seorang tukang jagal. Pria yang enggan disebutkan namanya itu mengaku pernah memotongkan sapi hasil ternak dari TPA Jatibarang. Kala itu, dia terpaksa mengambil sapi dari TPA ?karena harga sapi di pasaran sedang tinggi. �Kalau dari sana, harganya memang lebih murah,� kata sang jagal yang sudah menekuni profesinya sejak beberapa tahun lalu itu. Menurut Muhadi, kondisi rumah potong hewan saat ini memang tidak seperti dulu. Bila dulu dia bisa memotong lima hingga enam sapi dalam satu hari, sekarang hanya bisa memotong satu sapi lantaran harga sapi semakin mahal.

Toh, pria berusia 70 tahun ini bersikukuh tidak mau mengambil sapi dari TPA Jatibarang. Para pedagang daging di Pasar Johar, Semarang, juga menyatakan tidak pernah mengambil sapi dari RPH Penggaron atau sapi dari TPA Jatibarang. �sapi dari sana mahal, kami lebih suka mengambil sapi dari Boyolali,� kata Fatima, pedagang yang sudah 46 tahun berjualan daging di Pasar Johar. Pedagang lain di Pasar Banteng, Semarang, mengaku tidak bisa membedakan antara daging sapi yang berasal dari TPA Jatibarang atau wilayah lainnya. �Kalau pedagang di Pasar Banteng ini rata-rata mengambil daging dari jagal yang dipotongkan di RPH Penggaron,� kata Alwan Hadi Santoso, yang sudah berdagang daging sapi sejak tahun 1987. Dulu, dia juga seorang jagal tapi tidak pernah mengambil sapi dari peternak di TPA Jatibarang.

Di sisi lain, Pemerintah Kota Semarang menyadari bahaya mengonsumi daging sapi hasil ternak di TPA Jatibarang. Tapi, nyatanya mereka belum mengambil langkah nyata untuk menekan produktivitas ternak di TPA itu. �Kami sudah mencoba memberi penyuluhan untuk mengandangkan sapi-sapi itu, tapi sulit. Yang jelas, kami sudah menghentikan bantuan ternak ke wilayah itu,� kata Rusdiana. Bahaya daging sapi pemakan sampah tak hanya mengintai masyarakat Kota Semarang. Banyak sekali TPA di daerah lain yang juga menjadi lokasi favorit penggembalaan ternak sap