Rabu, 30 April 2014

RATAP

    


*Teruntuk Darna Sri Astuti, Korban Mutilasi di Tol  Cawang-Cikampek

Dia menyayatku
Begitu tenang
Dia mengirisku
Begitu dingin
Dia memotongku
Begitu tega

Terbelah aku
Terputus aku
Terpecah aku
Terkucur aku
dan berserakan aku

membusuklah setiap potong tubuh yang pernah disanjung
binatang pengurai terus menembus setiap selku
Dan para indra pencium pun galau mencari hulu bau
risaumu pun tak terelak
Dengan sang benalu, kau melarikanku di jalan berjaga
Dan berceceranlah aku
Harapmu, mereka melindasku hingga tak berjejak

Gelap matanya
hingga kakikupun tak bersentuh bumi
Dingin dan linglung
menatap raga yang pernah dicintanya
menatap tubuh berserak yang pernah dinikmatinya
menatap hati terburai yang pernah dipujanya

dia telah melumat cinta buta menjadi keji
Setiaku, patuhku, tak sekukupun dikenang

Pisaumu hanya bicara nadi yang terputus
Tapi bibir-bibir perempuan senasibku polos berujar, mengaratkan segala alibimu

Ketika kau bergelang besi
Mulutmu berujar fitnah, akulah pembawa benalu
Lagi, perempuan-perempuan itu bersaksi
Setiakulah yang kauingkari
Punggungku yang hilang tulang
Tak ada harga untukmu

Kini, semua nanar menghujammu
mengutukmu, berharap kau mati ditembus mesiu
Dan tak ada tega aku melihatmu.

15 Maret 2013

Perempuan itu Bernama Anastasia Maridjah


Dia ibuku
Berat tubuhnya tak pernah lebih dari 36 kilogram
kecuali saat mengandung
ketika gadis dia sangat ayu
Gaun sederhana atau kebaya kutu baru
selalu membalut tubuhnya yang ramping
rambutnya yang ikal selalu rapi disanggul ceplok
Seorang pemuda berpangkat di angkatan ditampiknya
Dia memilih seorang guru sederhana dari kidul kuburan
Bertahan di rumah warisan mertua dia mengasuh sembilan anaknya
Pagi jam 5 sarapan sudah selesai dibuatnya
dia lalu beranjak ke sawah untuk bertani
sekilo dua kilo terong dipetik
seikat dua ikat kancang panjang dipetik
Lalu dijualnya
tak lebih dari 500 perak dibawany pulang kala itu
Dia juga tak lupa membawa seikat genjer yang bakal dioseng dengan tempe bosok
untuk jamuan makan malam
Dia ibuku
berat tubuhnya tak pernah lebih dari 36 kilogram
kecuali saat mengandung

27 April 2014

Kamis, 17 Oktober 2013

Rindu Kawasan Industri Hijau

Pagi ini aku bersama bos meluncur ke daerah Gunung Putri, Bogor. Sebuah kawasan industri yang cukup padat. Memasuki kawasan industri itu, jalan berbatu yang terjal harus kami lalui. Truk-truk besar dan peti kemas berjalan pelan  karena harus berbagi dengan kendaraan lain seperti angkot berwarna biru. Maklum saja jalan yang dilalui tak terlalu lebar.

Aku dan bos punya kesimpulan yang sama. Mengapa di suatu kawasan industri jalanan dan kondisinya selalu di tidak nyaman. Jalan tak mulus dan sempit. Kondisi masyarakatnya pun tampaknya sudah akrab dengan debu-debu beterbangan setiap truk atau kendaraan melintas. Dulu, ketika aku reportase di kawasan industri di kawasan Bekasi pemandangan  juga taj jauh berbeda.

Kupikir, ketika sebuah perusahaan nyemplung di suatu area yang memang dikonsentrasikan untuk industri yang ditata apik itu hanya kawasan pabriknya saja. Apa mereka tidak merasa perlu mendandani area kanan kiri pabrik dan jalan menuju pabriknya. Alakah indahnya bila para pemilik pabrik itu bersama-sama bertanggung jawab dengan menata lingkungan yang nyaman bagi masyarakat sekitar.

Ya, pasti saja mereka pasti sudah merasa melakukan tugas sosial perusahaan dengan melakukan kegiatan CSR. Tapi tidak sedikit perusahaan yang melakuka CSR hanya sebatas kegiatan saja. Misalnya mengadakan sunatan masal. Seandainya saja mereka juga melakukan pembinaan masyakat sekeliling pabriknya untuk belajar menjadi wirausaha tentu, masyakarakat juga akan terdorong untuk menjaga lingkungan. Jadi kegiatan menjaga lingkungan bisa dilakukan baik oleh masyarakat dan pemilik industri.

Akan tampak nyaman bila, jalan-jalan menuju pabrik diaspal atau di beton dengan kuat -mengingat truk-truk selalu hilir mudik- sehingga tidak cepat berlubang atau rusak. Lantas ada penyisaan tanah untuk pohonan. Tentu pemandangannya dan kenyamanan di kawasan industri bisa terbangun. Bersama menjaga lingkungan.

Kamis, 06 September 2012

Pelecehan Seksual Oleh Warga Perancis Terhadap Tiga Anak Jogjakarta

Semalam seorang teman yang bermukim di Perancis mengajak chat. Dia memintaku untuk mengedit siaran pers tentang kasus pelecehan seksual yang dilakukan oleh warga negara Perancis terhadap tiga orang WNI. Temanku yang berkebangsaan Perancis itu memintaku untuk membenahi siaran pers yang sudah diterjemahkannya dari Bahasa Perancis ke Bahasa Indonesia. Tapi karena Bahasa Indonesia dalam siaran pers itu kurang 'rapi' dia memintaku mengeditnya.

Setelah aku membaca siaran pers itu, aku baru ingat. Kasus yang akan disidangkan Jumat 7 September 2012 ini sudah pernah diceritakannya padaku sekitar tujuh atau delapan tahun lalu. Baru terungkap sekarang?

Ya memang butuh proses yang panjang. Sebab kejadian pelecehan itu menimpa anak-anak yang tuna rungu. Mereka belum mau bercerita kala itu. Teman-teman NGO Perancis pun belum bisa mengungkap karena kurangnya bukti saat itu dan korban belum mau bercerita. 

Lama tak mendengar cerita itu, sekarang setelah tujuh atau delapan tahun berlaku dari cerita itu, ada berita di media online yang mengabarkan persidangan kasus pelecehan seksual yang dilakukan oleh pemimpin organisasi sosial berkewarganegaraan Perancis terhadap anak-anak berkewarganegaraan Indonesia. Akhirnya, anak-anak itu yang mungkin sekarang sudah besar, sudah berani mengungkap. 

Semoga, sang pelaku yang hingga saat ini masih mengelak dari tuduhan bisa mendapatkan ganjaran karena sudah ada bukti-bukti. 

"Pada awalnya dia (pelaku) berharap akan dapat lolos karena mereka (korban) tuna rungu tapi bahasa isyarat sdh dipandang sebagai suatu bahsa d perancis kesaksian jadi valid...dia juga sempat usaha lepas jadi semoga akan disanksi nanti ku kbrkan kl sdh ad hasilnya keputusan..." tulis temanku.

Berharap sekali, dalam kasus ini pemerintah Indonesia juga ambil bagian. Entahlah bagaimana prosedurnya, yang pasti yang menjadi korban adalah anak-anak Indonesia (tuna rungu lagi).

Butuh kepedulian yang lebih besar. Boleh jadi, anak-anak korban pelecehan seksual seringkali tak berani mengungkap karena seringkali diancam pelaku atau memang tidak berdaya karena merasa 'dihidupi' oleh pelaku. Dihidupi  dalam arti ada pemenuhi ekonomi, apalagi mereka masih anak-anak, iming-iming manis tentu akan menggodanya tanpa tahu dampak perbuatan pelaku terhadap kehidupan mereka di masa yang akan datang.

Kondisi ini tidak akan terjadi apabila ada 'kehidupan' layak bagi anak-anak Indonesia. 


Partager un monde de différence
Sharing a world of differencies
www.associationsolindo.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Press Release

Terdakwa Pelecehan Seksual, Gerard Carayon, akan Disidangkan Jumat, 7 September 2012

PARIS. Pada tanggal 7 September 2012, pukul 9.30 waktu Paris, akan diselenggarakan sidang pidana mengenai dugaan kasus pemerkosaan dan pelecehan seksual terhadap anak berkebutuhan khusus (disable). Sidang dengan terdakwa Mr Gerard Carayon alias Roddy de la Tour ini akan dilaksanakan di Pengadilan Tinggi Palais de Paris, di Perancis. Tindakan yang dipidanakan berlangsung di wilayah Indonesia dalam kurun waktu antara tahun 1996 dan tahun 2004.

Mr Gerard Carayon alias Roddy de la Tour, warga negara Perancis, merupakan seorang pensiunan asal Perancis yang selama kurun waktu dugaan tindak pidana terjadi tersebut bermukim di daerah Berbah, Sleman, Yogyakarta, Indonesia. Selama di Indonesia, Gerard memimpin sebuah organisasi yang mempunyai tujuan membantu anak-anak tuna rungu dan berkebutuhan khusus (disable) bernama Association Echanges France Indonesie.

Para korban dugaan pemerkosaan dan pelecehan seksual yang dilakukan Gerard berjumlah tiga orang dan semuanya merupakan warga negera Indonesia. Ketiga korban tersebut masih di bawah umur pada saat mengalami pelecehan tersebut. Anak-anak tersebut adalah anak tuna rungu.

Salah satu dari ketiga korban, akhirnya mengambil keputusan untuk mengadukan tindakan dan pelakuan keji yang dialaminya. Kesaksiannya disampaikan kepada sukarelawan asal Perancis yang juga kebetulan seorang tuna rungu. Kesaksian itu lalu disampaikan ke Konsul Perancis Yogyakarta yang menjabat waktu itu. Pihak Konsul Perancis selanjutnya menindaklanjutinya dan menyampaikannya ke Atase Keamanan Dalam Negeri yang bertugas di Kedutaan Besar Perancis di Jakarta pada waktu itu. Atase tersebut kemudian menginformasikan pihak kepolisian di Perancis mengenai tindakan yang dilakukan Gerard Carayon pada ketiga anak tuna rungu tersebut.

Berkat extraterritoriality law, terdakwa yaitu Gerard Carayon, berhasil diamankan sehingga tuntutan hukum terhadapnya dapat dilaksanakan.

Sejak tahun 2002, Solindo, sebuah NGO Perancis yang mendukung dan mempromosikan berbagai usaha kerjasama antara komponen masyarakat tuna rungu dan orang yang dapat mendengar, antara Perancis dan Indonesia berjuang melawan diskriminasi telah mengikuti perkembangan berkas kasus ini. Mereka mendukung perkembangan dan senantiasa mengawasinya supaya dapat sampai ke pengadilan.

Sejak tahun 2009, ACPE (Association Contre la Prostitution des Enfants) sebuah NGO yang berusaha melindungi Hak Anak dan melawan Prostitusi Anak telah memutuskan mewakili para korban dan mengadvokasi perjuangan mereka.

Demikian, press release ini kami buat. Silakan untuk menyebarluaskan informasi. Bila berada di Paris datanglah beramai-ramai untuk menyaksikan sidang sebagai dukungan kepada anak-anak korban pelecehan yang pada persidangan ini tidak akan dapat menghadirinya.

Bercerita lagi ah

Ah, sudah setahun rupanya aku tak menjenguk dinding ini. Awalnya memang keisengan, sapa tahu penyakit malas untuk menulis hilang. Nyatanya sampai setahun tak kubuka dinding ini tanpa ada cerita yang ditinggalkan.

Biar saja aku dibilang ketinggalan di urusan blog mengeblog. Ah memang demikian adanya. Tapi tidak ada salahnya kan aku ikut-ikutan meski ketinggalan. Hanya ingin kembali melatih menuangkan isi kepala, itung-itung bisa menunda kepikunan di masa tua nanti. Hehehehe...

Buku curhatku di rumahpun sudah lama tak tersentuh tinta pena. Ah, kemalasan menulis masih saja menghantui sejak SD sampai sekarang.

Sudah..sudah...cukup sudah berkeluhnya...sekarang ayo sedikit demi sedikit menulis lagi.

Rabu, 03 Agustus 2011

Aku

Aku suka puisi. Bukan dibaca di dalam hati. Menghidupkan puisi dengan udara bergerak lebih kusuka. Puisi membuat rasaku menyatu. Puisi memampukanku mengungkapkan apa saja. Puisi adalah jalan untuk memainkan kata dan membedah kata lebih jauh. Puisi itu kebebasan, imajinasi tak terbendung.

Bukan hanya puisi yang ingin kuhidupi dalam diri. Menulis, apa saja, sedang kucoba bangun. Selama ini, aku hanya menulis seputar berita asuransi, multifinance, peluang usaha, dan profil orang sukses. Maklum, semua itu tuntutan pekerjaanku sebagai seorang reporter media ekonomi dan bisnis KONTAN. Sejak akhir 2008, aku sudah bergabung di media.

Di luang bekerja, aku lebih suka di rumah. Menonton film, menanam bunga dan sayuran, dan bermalas-malas di atas ranjang.